
Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hsinchu harus kehilangan pekerjaannya akibat kesalahpahaman yang berawal dari terjemahan Google Translate. Wati (nama samaran), yang baru bekerja empat bulan sebagai penata laksana rumah tangga (PLRT), belum menguasai bahasa Mandarin dan sehari-hari mengandalkan aplikasi penerjemah untuk berkomunikasi dengan majikannya.
Masalah bermula dari menu sarapan. Setiap hari Wati menyiapkan bubur kacang hijau. Karena merasa jenuh dengan menu yang sama, suatu hari ia memasak menu berbeda. Saat ditanya majikan mengapa tidak membuat bubur seperti biasa, Wati mencoba menjelaskan dalam bahasa Mandarin seadanya, namun tidak dipahami.
Ia kemudian menuliskan maksudnya di Google Translate, ingin menyampaikan bahwa ia “bosan” dengan menu yang sama. Namun kata “bosan” diterjemahkan menjadi “membosankan”. Majikan pun salah paham dan mengira Wati merasa pekerjaan serta lingkungan kerjanya membosankan, bahkan dianggap sudah tidak betah bekerja.
Situasi membesar hingga agensi dipanggil untuk mediasi. Sayangnya, meski sudah dijelaskan, majikan tetap memutuskan mengakhiri kontrak karena merasa Wati tidak lagi ingin bekerja. Pada akhirnya, Wati memilih pulang ke Indonesia, apalagi kondisinya juga sedang sakit.
Ketua GANAS (Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas) mengingatkan bahwa keterbatasan bahasa bisa membuat kesalahpahaman kecil berubah menjadi masalah besar. Ia berpesan agar PMI berhati-hati menggunakan Google Translate, terutama menghindari kata-kata bernuansa emosi seperti “bosan”, “capek”, atau “tidak suka” yang mudah disalahartikan. Lebih baik gunakan kalimat sederhana dan netral, misalnya mengganti “Saya bosan makan ini terus” menjadi “Saya ingin ganti menu hari ini.”
Jika terjadi kendala komunikasi, PMI disarankan segera meminta bantuan pihak ketiga seperti agensi, teman sesama PMI, atau komunitas sebelum konflik membesar. Belajar frasa Mandarin dasar juga sangat penting.
Pelajaran dari kisah ini: pemutusan kontrak tidak selalu karena kesalahan besar. Kadang hanya karena miskomunikasi yang sebenarnya bisa dicegah. Di negeri orang, bahasa bukan sekadar alat bicara, tetapi juga alat untuk bertahan hidup.












